teks berjalan

Gagal dalam sebuah pertempuran akan lebih ksatria, daripada gagal sebelum sempat menarik pedang.

Rabu, 16 Februari 2011

kata-kata bijak Syech Abdul Qodir Jaelani


kata-kata bijak Syech Abdul Qodir Jaelani

oleh Abah Ibrahim pada 08 Juni 2010 jam 15:39
Assalamualaikum....

Akan kami paparkan bagimu sebuah misal tentang kelimpahan, dan kami
berkata, "Tidakkah kau lihat seorang raja yang menjadikan seorang
biasa sebagai gubernur kota tertentu, memberinya busana kehormatan,
bendera, panji-panji dan tentara, sehingga ia merasa aman mulai yakin
bahwa hal itu akan kekal, bangga dengannya, dan lupa akan keadaan
sebelumnya. Ia terseret oleh kebanggaan, kesombongan, dan kesia-
siaan. Maka, datanglah perintah pemecatan dari raja. Dan sang raja
meminta penjelasan atas kejahatan-kejahatan yang telah dilakukannya
dan pelanggarannya atas perintah dan larangannya. Lalu sang raja
memenjarakannya di dalam sebuah penjara yang sempit dan gelap serta
memperlama pemenjaraannya, dan orang itu terus menderita, terhinakan
dan sengsara, akibat ketakaburan dan kesia-siaannya, dirinya hancur,
api kehendaknya padam, dan semua ini terjadi di depan mata sang raja
dan diketahuinya. Setelah itu ia menjadi kasihan terhadap orang itu,
dan memerintahkan agar ia dibebaskan dari penjara, disertai
kelembutan terhadapnya, dianugerahkan kembali busana kehormatan, dan
dijadikannya kembali ia sebagai gubernur. Ia menganugerahkan semua
ini kepada orang itu sebagai karunia cuma-cuma. Kemudian ia menjadi
teguh, bersih, berkecukupan dan terahmati.

Beginilah keadaan seorang beriman yang didekatkan dan dipilih-Nya.

Ia bukakan di hadapan mata hatinya pintu-pintu kasih-sayang,
kemurahan dan pahala. Maka, ia melihat dengan hatinya yang mata tak
pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar, yang hati manusia
tak tahu akan hal-hal gaib dari kerajaan lelangit dan bumi, akan
kedekatan dengan-Nya, akan kata manis, janji menyenangkan, limpahan
kasih-sayang, akan diterimanya doa dan kebajikan, dan akan
dipenuhinya janji serta kata-kata bijak bagi hatinya, yang menyatakan
sendiri melalui lidahnya, dan dengan semua ini Ia sempurnakan bagi
orang ini karunia-karunia-Nya pada tubuhnya, yang berupa makanan,
minuman, busana, istri yang halal, hal-hal lain yang halal dan
pemerhati terhadap hukum dan tindak pengabdian. Lalu, Allah
memelihara keadaan ini bagi hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-
Nya sampai sang hamba beriman-Nya yang didekatkan kepada-Nya sampai
sang hamba merasa aman di dalamnya, terkecoh olehnya dan percaya
bahwa hal itu kekal. Maka, Allah membukakan baginya pintu-pintu
musibah, aneka kesulitan hidup, milikan, istri, anak, dan mencabut
darinya segala karunia yang telah dilimpahkan-Nya kepadanya sebelum
ini, sehingga ia terkulai, hancur dan terputus dari masyarakatnya.

Bila ia melihat keadaan-keadaan lahiriahnya, maka ia melihat hal-hal
yang buruk baginya. Bila ia melihat hati dan jiwanya, maka ia melihat
hal-hal yang menyedihkannya. Jika ia memohon kepada Allah untuk
menjauhkan kesulitannya, maka permohonannya itu tak diterima. Jika ia
memohon janji baik, ia tak segera mendapatkannya. Jika ia berjanji,
ia tak tahu tentang pemenuhannya. Bila ia bermimpi, ia tak bisa
menafsirkannya dan tak tahu tentang kebenarannya. Bila ia bermaksud
kembali kepada manusia, ia tak mendapatkan sarana untuk itu. Bila ada
sesuatu pilihan baginya dan ia bertindak berdasarkan pilihan itu,
maka ia segera tersiksa, tangan-tangan orang memegang tubuhnya, dan
lidah-lidah mereka menyerang kehormatannya.

Bila ia hendak melepaskan dirinya dari keadaan ini, dan kembali
kepada keadaan sebelumnya, ia gagal. Bila ia memohon agar dikaruniai
pengabdian, ketercerahan dan kebahagiaan di tengah-tengah musibah
yang dialaminya, permohonannya itu pun tak diterima.

Maka, dirinya mulai meleleh, hawa nafsunya mulai sirna, maksud-maksud
serta kerinduan-kerinduannya mulai pupus, dan kemaujudan segala suatu
menjadi tiada. Keadaannya ini diperpanjang dan kian hebat, hingga
sang hamba berlalu dari sifat-sifat manusia. Tinggallah ia sebagai
ruh. Ia mendengar panggilan jiwa kepadanya:
"Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum."
(QS 38:42)

Sebagaimana panggilan kepada Nabi Ayub as. Lalu Allah mengalirkan
samudra kasih-sayang dan kelembutan-Nya ke dalam hatinya,
menggelorakannya dengan kebahagiaan, aroma harum pengetahuan tentang
hakikat dan ketinggian pengetahuan-Nya, membukakan baginya pintu-
pintu nikmat dalam segala keadaan hidup, membuat para raja mengabdi
kepadanya, menyempurnakan baginya nikmat-nikmat-Nya lahiriah dan
ruhaniah, menyempurnakan lahiriahnya melalui makhluk dan rahmat-
rahmat lain-Nya, menyempurnakan ruhaninya dengan kelembutan dan
karunia-Nya, dan membuat keadaan ini berkesinambungan baginya, hingga
ia menghadap-Nya. Kemudian Ia memasukkannya ke dalam yang mata tak
pernah melihat, yang telinga tak pernah mendengar dan yang tak pernah
tersirat dalam hati manusia, sebagaimana firman-Nya:
"Tiada jiwa yang tahu yang disembunyikan bagi mereka, yang akan
mengenakkan mata mereka, balasan bagi yang telah mereka perbuat."
(QS
32:17)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar