teks berjalan

Gagal dalam sebuah pertempuran akan lebih ksatria, daripada gagal sebelum sempat menarik pedang.

Selasa, 01 Februari 2011

WNI Dievakuasi dari Mesir

6.100 WNI Dievakuasi dari Mesir lewat Udara

JAKARTA - Pemerintah telah memutuskan untuk mengevakuasi 6.100 WNI dari Mesir menyususl gejolak politik yang melanda negeri piramida itu. Pemerintah mulai Senin (31/1) malam menerbangkan pesawat untuk menjemput mereka.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) telah membentuk satgas untuk mengkoordinasikan pemulangan WNI dari Mesir.

”Satgas dipimpin oleh Hassan Wirajuda, dengan pertimbangan mantan Dubes RI di Mesir dan mantan Menlu sehingga cakap. Saya juga menunjuk Wakasau Marsekal Madya Sukirno sebagai wakil satgas,” kata SBY dalam jumpa pers di kantornya, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, Senin (31/1).
SBY mengatakan, biaya evakuasi para WNI itu akan dibebankan pada keuangan negara. Satgas bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Presiden mengatakan, evakuasi akan dilakukan dengan pesawat Garuda Indonesia maupun maskapai lainnya. Namun SBY tidak menyebutkan berapa pesawat yang dibutuhkan untuk mengangkut 6.100 WNI dari Mesir.

Prioritas Anak-anak

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Kusuma Habir mengatakan, Menlu Marty Natalegawa terus berkomunikasi dengan Dubes RI untuk Mesir, AM Fachir di Kairo perihal situasi politik dan keamanan serta WNI di negara tersebut. ”Sejak terjadi kerusuhan, KBRI terus memonitor situasi dan kondisi WNI dan memfasilitasi kebutuhan logistik,” kata Kusuma.
 Langkah-langkah yang telah dilakukan antara lain membentuk jaringan komunikasi dengan 20 pusat masyarakat dan mahasiswa pada 3 titik (KBRI, sekolah Indonesia, dan kantor pelayanan konsuler).

Jumlah WNI di sana tercatat 6.149 orang, terdiri atas 4.297 mahasiswa, 1.002 TKI. Selebihnya, WNI yang berdomisili di Mesir, termasuk staf KBRI dan keluarganya. Wisatawan Indonesia di Mesir hingga kemarin tercatat berjumlah 8 orang.
Situasi di Mesir terus memburuk akibat unjuk rasa menuntut Presiden Hosni Mubarak mundur dari jabatannya sudah berlangsung 6 hari. Seratusan orang telah tewas dalam demo  rusuh tersebut.

Mengenai berapa jumlah pesawat yang diberangkat ke Mesir, hingga semalam belum ada kepastian.
”Yang penting tim berangkat dulu, pesawat ke sana, pengaturan, prioritas anak anak dan ibu ibu dulu,” kata Menko Perekonomian Hatta Rajasa, usai mendampingi Presiden SBY jumpa pers mengenai Krisis Mesir.

Menurut Hatta, pesawat Garuda dan Lion Air siap diterbangkan untuk mengevakuasi WNI di Mesir. Pemerintah juga telah menyiapkan anggaran untuk proses evakuasi ini.
Dari sekitar 6.000 WNI ternyata tidak semua mau dievakuasi. WNI yang tidak mau dievakuasi memilih untuk mencari sendiri tempat aman di Mesir.

”Di antara mereka juga ada yang tidak mau dievakuasi, tapi lebih memilih mencari tempat aman,” ujar Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Tatang Budi Utama Razak.
Tatang mengatakan, Kemenlu terus berkomunikasi dengan Dubes RI untuk Mesir yang sekarang sedang berada di Nasr City, 20 km dari Kairo.
 Ada kendala dengan komunikasi via telepon, namun Tatang menegaskan tim dari KBRI terus bergerak untuk melakukan evakuasi. Ada 20 posko yang bisa dijangkau WNI untuk dievakuasi, selain di KBRI, Konsulat dan sekolah KBRI.

”Prioritas keluarga dan anak-anak. Kita kerjasama dengan tokoh masyarakat. Yang pasti kita
terus pantau situasi di Mesir,” katanya.
Kemlu juga mengulangi travel advisory, meminta warga Indonesia menunda kunjungan ke Mesir apapun bentuknya.
”Karena tidak kondusif, aparat juga kurang maksimal melindungi, sehingga diimbau tidak melakukan kunjungan apalagi wisata,” tegasnya. (dtc-35)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar