Raksasa Ekonomi Tergulung Tsunami
Bogi Triyadi
Artikel Terkait
Sudahlah Nurdin...
Kekayaan Keluarga Khadafi (3)
Khadafi Pernah Nyaris Dikudeta Anaknya Sendiri
20/03/2011 16:37
Liputan6.com, Tokyo: Gempa sekuat sembilan skala Richter disusul gelombang tsunami sekitar tujuh meter yang menerjang Jepang, Jumat pekan kedua Maret silam, menimbulkan kekhawatiran bagi perekonomian negara tersebut. Hancurnya infrastruktur, terganggunya aktivitas, dan rusaknya fasilitas publik menjadi sebuah hantaman yang signifikan bagi perekonomian Negeri Matahari Terbit itu.
Peluang penurunan perekonomian Jepang dalam beberapa waktu ke depan cukup beralasan. Ini mengingat kerusakan juga terjadi di beberapa wilayah industri. Di kawasan Miyagi yang merupakan kompleks terpadu dari industri kimia dan pembangkit listrik, banyak pabrik terbakar serta rusaknya jalur transportasi.
Pun demikian di wilayah lainnya, seperti Hokuriku yang merupakan area pembangkit tenaga nuklir. Sendai, Kashima, dan Neghisi yang merupakan kompleks industri minyak, di mana di wilayah tersebut terdapat perusahaan minyak terkemuka Jepang, yaitu JX Nippon Oil and Energy Corp. Kebakaran hebat juga terjadi di Chiba yang merupakan wilayah industri logam.
Rusaknya sektor industri pastinya kian menekan sektor riil yang dalam beberapa waktu terakhir dilaporkan menurun performanya. Beberapa data ekonomi Jepang yang diliris, seperti data leading indicator untuk Februari naik tipis 0,9 persen atau jauh dibandingkan prediksi semula, yakni 102,4 persen.
Sementara data current account atau defisit neraca berjalan turun US$ 1,09 triliun atau anjlok dari level sebelumnya di posisi US$ 1,52 triliun. Prelim machine tool orders melemah 16,1 persen menjadi 73,7 persen di Februari. Sedangkan untuk kuartal pertama tahun ini, produk domestik bruto (GDP) Jepang diprediksi akan menurun 0,3 persen.
Gempa dahsyat juga merusak pembangkit listrik tenaga nuklir di Fukushima Daiichi. Pembangkit milik Tokyo Electronic Power Co ini meledak dan menambah krisis listrik di Jepang. Pemadam listrik bergilir di sejumlah wilayah, termasuk Tokyo pun diberlakukan.
Hal ini telah mengganggu produksi pabrik-pabrik raksasa. Sony Corp, misalnya. Perusahaan peralatan elektronik terbesar di Jepang itu mengumumkan enam pabriknya terganggu. Akibatnya, Sony menghentikan sementara produksi mereka.
Toyota Motor Corp juga mengumumkan menghentikan sementara seluruh pabriknya di Jepang. Produsen mobil terbesar di dunia ini mengelola 12 pabrik di negara itu. Sedangkan Honda Motor Co juga menangguhkan produksi pada empat pabriknya. Begitu juga dengan Nissan Motor Co. Produsen mobil terbesar kedua di Jepang itu menghentikan sementara operasi di empat pabriknya.
Perusahaan afiliasi Toyota, Denso Corp menutup sementara hampir seluruh pabriknya di Jepang. Canon Inc, perusahaan pembuat kamera terbesar di dunia, juga menyatakan menangguhkan operasi di delapan produksi dan fasilitas pembangunan di Jepang bagian utara. Sementara, Nikon Corp menghentikan empat pabrik di Miyagi dan Prefektur Tochigi.
Pemadaman listrik juga membuat Toshiba Corp menghentikan lima pabriknya. Begitu juga Fujitsu Ltd., pembuat semikonduktor dan peralatan komputer, menghentikan 10 pabrik di Jepang bagian utara dan daerah Tokyo.
East Japan Railway Co, operator kereta api dan kereta bawah tanah di wilayah Tokyo serta Jepang bagian utara mengurangi perjalanan hingga 80 persen, khususnya di Tokyo. Matinya listrik membuat Ashai Breweries Ltd, perusahaan bir terbesar di Jepang, mengurai produksinya di pabrik di Prefektur Kanagawa hingga 50 persen.
Buat meringankan krisis listrik, penghentian operasional pabrik-pabrik di Miyagi dan Fukushima bahkan dilakukan secara sukarela. "Pasokan listrik adalah faktor penting. Jika produksi listrik rusak dengan cara berkesinambungan, maka akan memberikan dampak yang tahan lama pada perekonomian," kata kepala ekonom Global Societe General, Michala Marcussen.
Goldman Sachs Group Inc memprediksi Toyota kehilangan potensi keuntungan hingga enam miliar yen atau sekitar Rp 640 miliar per hari atas penutupan 12 pabriknya. Sedangkan Honda dan Nissan bakal kehilangan dua miliar yen atau sekitar Rp 213 miliar per hari.
Bank investigasi Credit Suisse memperkirakan kerugian akibat gempa dan tsunami Jepang tidak akan kurang dari US$ 171 miliar atau sekitar Rp 1.500 triliun lebih. Namun, Menteri Keuangan Jepang Yoshihiko Noda menilai masih terlalu dini membuat penilaian jumlah kerugian.
Gempa, tsunami, dan kebocoran nuklir telah mengempaskan bursa saham Jepang di awal perdagangan pekan lalu. Indeks Nikkei ditutup merosot 633,94 poin atau 6,18 persen ke level 9.620,49. Sementara, Indeks Topix merosot 68,55 poin atau 7,49 persen ke level 846,96. Ini adalah kejatuhan terbesar di lantai bursa Jepang sejak Oktober 2008.
Dengan kerusakan yang begitu besar, dipastikan akan melumpuhkan aktivitas di beberapa wilayah Jepang. Penurunan ekonomi di Jepang pun tak terelakkan. Lantas bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?
Ketua Umum Kamar Dagang Industri Indonesia atau Kadin, Suryo Bambang Sulistyo mengatakan, gempa dan tsunami di Jepang setidaknya berdampak pada lima aspek terkait hubungan perekonomian antara Indonesia dan Jepang. Kelima aspek tersebut meliputi Jepang sebagai kreditor terbesar untuk Indonesia, Jepang sebagai mitra dagang yang signifikan bagi Indonesia, dan Jepang sebagai investor terbesar nomor dua untuk penanaman modal asing secara langsung di Indonesia.
Dua aspek lainnya adalah Jepang sebagai pemasok turis atau wisatawan yang berkunjung ke Indonesia dan negara pemberi bantuan untuk berbagai proyek pembangunan di Indonesia. Karena itu, Indonesia perlu menyiapkan sejumlah langkah antisipasi terkait dampak tersebut. "Kita harus bersiap-siap dan antisipatif terhadap kemungkinan yang bisa berdampak pada ekonomi kita," ucap Suryo.
Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, Jepang telah menyatakan komitmennya untuk tetap melaksanakan investasinya di Indonesia. Sebab, Jepang merupakan negara yang paling siap dalam menghadapi bencana alam, seperti tsunami. Dengan demikian, perekonomian negara ini diyakini akan bangkit dalam jangka waktu yang tidak lama. Semoga saja.(BOG/ANS/dari berbagai sumber)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar